Pertama membaca judul di atas mungkin rada aneh, apa arti dan maksudnya ?.
Yang jelas tidak ada maksud apa-apa, karena judul diatas merupakan oleh-oleh dari jogja.
Ya Nasi Gudeg Ikan Ayam saya peroleh dari seorang penjual nasi di stasiun tugu jogja..
Cerita Nasi Gudeg Ikan Ayam ini dimulai ketika saya mau ke jakarta setela seminggu menemani satya dan ibunya
.
Sore menjelang malam ketika nunggu kereta berangkat ada ibu-ibu yang menawarkan makanan dalam tenggoknya..Gudeg mas, buat makan di kereta, sempat mikir juga sih di kereta kan sudah dapat makan ?, tapi entah kenapa akhirnya saya beli juga.
Setelah kereta datang dan sudah diposisi..langsung saya buka bungkusan itu. tapi sebelumnya saya perhatikan tulisan yang ditempel dengan streples ke bungkusan itu “Nasi Gudeg Ikan Ayam”, jadi senyum-senyum sendiri sambil mencoba mengartikan apa yang di maksud dengan tulisan itu. Tapi dengan cepat saya bisa memahami maksudnya, karena saya juga wong Ndeso
. ya..maksud tulisan itu adalah Nasi Gudeg dengan Lauk Ayam..terus Ikan-nya ??.
Tentu saja karena saya wong Ndeso tadi saya tidak terkecoh, kata ikan diambil dari Iwak yang dalam bahasa jawa artinya Ikan. Tapi gak tahu kenapa istilah iwak ini kemudian menjadi pengganti kata daging dalam bahasa jawa. Sehingga ketika kata Iwak Ayam diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Ikan Ayam, Iwak Sapi –> Ikan Sapi, Iwak Kebo –> Ikan Kebo..hehe rasanya jadi aneh ya
.
Memang kadang namanya tidak bisa dipahami ketika di terjemahkan ke Bahasa Indonesia jadi aneh seperti yang ditulis Waroeng Ophoeng.
Bahkan yang kadang terasa aneh dan lucu adalah kata “Jangan”, dalam bahasa Indinesia Tidak Boleh. Ada satu cerita dimana waktu itu mbah-mbah kedatangan mahasiswa KKN yang dari jakarta, karena kedatangan tamu jauh dia menyiapkan makan. Mbah itu menawarkan dengan bahasa jawa;
“Ayo podho di maem, ini tempe, ini sambel, ini janganĀ (sambil menunjuk satu persatu menunya)”
Setelah semua makan ternyata Sayur nya masih utuh, dan hanya sambel + tempe yang berkurang, karena bingung mbah bilang lagi
“Lho kok jangane ora di maem” ? (sambil menunjuk sayur yang masih utuh )
Semua yang ada bingung dan akhirnya saling berbisik dan bilang katanya yang ini jangan (tidak boleh)..
Jadi disini ada perbedaan makna kata “Jangan” yaitu “Sayur” dalam bahasa Jawa dan Tidak Boleh dalam Bahwa Indonesia.
